FENOMENA BULLYING DI SEKITAR KITA

 

Apa Itu Bullying?

    Bullying merupakan suatu tindakan kekerasan atau penindasan yang dilakukan secara sengaja oleh satu orang atau sekelompok yang merasa berkuasa terhadap orang lain yang tujuannya untuk menyakiti dan dilakukan secara terus menerus.

    Perbuatan bullying bisa meliputi hal-hal yang melakukan kekerasan fisik seperti memukul, mencubit, mendorong, dan lain-lain. Bullying juga bisa dalam konteks verbal seperti mengejek penampilan, menghina kemampuan, serta melontarkan kata-kata yang menyakitkan hati. Menjauhi dan mengucilkan seseorang juga bisa termasuk dalam tindakan bullying.

    Pada saat ini, tindakan bullying dilakukan tidak harus kenal dengan orang lain. Banyak sekali tindakan bullying terjadi melalui media sosial yang dimana menjadikan orang lain menjadi tidak percaya diri dan menjadi takut untuk menunjukkan dirinya.

Fenomena Bullying di Indonesia 

    Indonesia merupakan negara dengan tingkat kasus bullying yang cukup tinggi, seperti adanya perilaku intimidasi remaja. Mereka melaporkan bahwa terkena kekerasa fisik. Hasil survey Kementerian Sosial Indonesia pada tahun 2013 menunjukkan bahwa satu dari dua remaja pria (47,45%) dan satu dari tiga remaja wanita (35,05%) dilaporkan mengalami intimidasi. Data lebih lanjut dari Survei Kesehatan Siswa berbasis Sekolah Global (Global School-based Student Health Survey/GSHS) 2015 menunjukkan bahwa 24,1% remaja pria dan 17,4% remaja wanita telah mengalami intimidasi. (http://news.unair.ac.id/2019/09/02/memahami-fenomena-bullying-di-kalangan-remaja-indonesia/#:~:text=Indonesia%20adalah%20salah%20satu%20negara,telah%20menjadi%20korban%20kekerasan%20fisik.)

    Faktor yang menjadikan bullying yaitu faktor demografi, faktor sosial, faktor gaya hidup, kondisi hidup, dan pekerjaan. Banyak juga kasus bullying verbal yang menimpa para remaja dan dapat berdampak pada penggunaan narkoba, alkohol, bahkan sampai ada yang bunuh diri karena merasa tidak kuat dengan bullying itu sendiri.

Akibat dari Tindakan Bullying 

    Akibat dari perilaku bullying tidak hanya dirasakan oleh korban, melainkan bisa saja dirasakan oleh pelaku, dan anak lain yang melihat tindak kejadian ini. Biasanya, hal itu diawali dari mereka yang pernah menyaksikan tindakan bullying pada kawan atau lingkungan sekitar mereka. Hal ini akan membuat mereka mengalami resiko menjadi pribadi individu yang penakut dan rendah diri, sering merasakan kecemasan yang berlebihan, serta merasa keamanan diri rendah. Para pelaku bullying memiliki rasa kepercayaan diri dengan harga diri yang sangat tinggi, sehingga  cenderung bertindak secara agresif dengan perilaku yang pro terhadap kekerasan. Sebagian besar dari mereka berwatak keras, mudah marah atau emosinya cepat naik dan impulsif, rasa toleransi yang rendah terhadap hal yang membuat frustasi baginya atau dibenci. Para pelaku bullying ini memiliki kebutuhan kuat untuk selalu ingin mendominasi orang lain lalu kurang berempati terhadap targetnya. Bagi siapa saja, sifat seperti ini dapat  mempengaruhi hubungan sosialnya di masa yang akan datang.

    Pelaku akan menganggap bahwa mereka mempunyai kekuasaan penuh terhadap keadaan. Jika didiamkan terus-menerus tanpa intervensi dari pihak tertentu, perilaku bullying bisa menyebabkan terbentuknya perilaku lain seperti melakukan kekerasan terhadap anak dan tindakan kriminal lainnya, yang dapat menjadi penyebab terjadinya tindakan penyalahgunaan kekuasaan antar sesama teman.

    Sedangkan akibat yang dirasakan oleh para korban dari adanya bullying ini adalah korban merasa cemas dan ketakutan. Jika terus berlanjut dalam jangka waktu yang lama, maka bisa mempengaruhi kepercayaan diri, terjerat dalam isolasi sosial, memunculkan perilaku menarik diri dari pergaulan, menjadikan si korban rentan mengalami stress dan depreasi, serta rasa tidak aman.

    Dia kemungkinan marah terhadap dirinya sendiri, bisa pula terhadap si pelaku bullying, terhadap orang-orang di sekitarnya dan terhadap orang dewasa, pihak tertentu, keluarganya, ataupun orang di sekitar yang tidak mau menolongnya atau melindunginya.

    Seorang pelajar yang mengalami bully dia akan jarang hadir di sekolah karena takut sampai menimbulkan prestasi akademik yang rendah bagi siswa, merasa depresi di usia dini. Selain itu akan terjadi penurunan skor tes kecerdasan (IQ) serta penurunan drastis pada kemampuan analisis siswa. Korban bully melakukan bunuh diri (commited suicide) karena merasa tidak kuat, tidak lagi bisa menahan dan merasa dirinya tidak bisa melakukan apa-apa dari perlakuan bully oleh seseorang atau sekelompok orang. Dia sering diselimuti rasa ketakutan,merasa dirinya terancam dan kesepian sampai jalan satu-satunya yang dia lakukan yaitu dengan bunuh diri. Korban bully melakukan balas dendam bahkan hingga pada pembunuhan pada orang yang melakukan tindakan bully terdahapnya.

Dampak dari Bullying

    Dari segi dampak negatinya, anak-anak yang menjadi korban bullying serta mereka yang jadi pelakunya akan mengalami risiko dampak psikologis berupa depresi, kegelisahan dan gangguan rasa panik dalam waktu bertahun-tahun. Seorang anak yang sering melihat tindakan bullying akan menjadi penakut dan rapuh, karena tindakan tersebut dapat membuat orang tersebut ketakutan, selain itu anak akan sering mengalami kecemasan, biasanya seorang individu akan mengalami ketakutan atau kecemasan saat melihat orang lain dibully, mereka cenderung takut untuk menjadi korban bullyketiga rasa keamanan diri yang rendah.

    Dampak psikologis jangka pendek terhadap korban bullying yaitu kehilangan nafsu makan, prestasi belajar menurun, tidak bersemangat untuk melakukan kegiatan yang disukai; depresi, gangguan pengendalian diri dan bunuh diri karena secara mental telah terganggu parah akibat sering di-bully ( Alamsyah R).

    Selain itu, dampak lainnya adalah dampak psikologi sosial anak. Anak yang sering mengalami tindak bullying akan lebih sering menutup diri dari lingkungan sosialnya, tidak percaya diri serta lebih memilih menyendiri, dan tidak mau bergabung dengan teman yang lainnya.

Komentar